setelah absen emas di London kini Bulutangkis kembali melanjutkan tradisi emas di Olimpiade lewat kategori campuran oleh Tontowi dan Lilyana.
Dengan raihan ini, mereka berhak atas uang 5 Milyat seorang.
Bonus yang fenomenal untuk seorang atlet yang tinggal di negara yang mana atletnya tidak pernah diurus.
Bonus ini menurut saya sebuah kedunguan yang agak mendalam.
mengingat banyak cabang lain yang punya potensi namun terkendala biaya dan manajemen ( yang juga butuh biaya )
US dan Russia saja bonus untuk medali emas itu "cukup beberapa puluh ribu dolar saja"
mengapa ?
Karena uang pemberian pemerintah sudah mereka nikmati sehari-hari.
dari alat, makan, fasilitas hingga uang jajan anak dan tabungan di masa tua.
Rasa aman di aspek perekonomian ini membuat atlet fokus berlatih dan bekerja untuk menekuni cabang olahraganya dan berujung pada prestasi yang gemilang.
Jadi ga ada tuh ceritanya atlet yang kalo pagi jualan risol, siang sampe sore latihan, malemnya jaga warnet.
Dengan prestasi yang baik maka enak untuk manajernya untuk ngejual atlet.
Bisa jadi duta / ambassador brand olahraga, kesehatan sampe fashion. Asal kalau atlet udah pernah juara asia atau dunia ya jangan dibanting jadi bintang iklan sosis siap makan juga sih. Ngejatohin nilai mereka aja. Nike / Adidas / Puma mau ngemail proposal akhirnya cuman di draft aja.
Peluang lainnya adalah sekolah kursus olahraga.
misalnya pelatih renang indah jogja, Anna Nasekina juara dunia dan peraih emas Olimpiade dia kini punya sekolah renang indah di kampungnya Russia, mengandalkan ketenaran dan skill dia sebagai atlet yang tarafnya dunia.
Hal itu udah ditiru di Indonesia dengan SSB (sekolah sepak bola) yang biasanya ada nama pemain bola di belakangnya, kayak SSB Alexander Xaununu, atau SSB lain yang pelatihnya itu pemain top Liga Indonesia di masa lampau.
Uang 5 milyar itu gede banget.
Sebenernya Kemenpora beruntung cuman satu cabang aja yang dapet emas.
Bayangin ternyata ga disangka ada 7 cabang yang dapet emas. Keluar duit 35 Miliar.
Itu udah bisa biayain kejurnas 35 kali.
Andai bonus emas itu kasih aja 1 Milyar.
4 Milyarnya di investasikan ke cabang lain untuk dukung mereka kualifikasi Olimpiade.
Ada banyak cabang punya peluang di Indonesia, sayangnya keseharian mereka tidak didukung sehingga terhambat untuk ikut kejuaraan bergengsi.
Saya pernah nulis entah di blog sebelah atau di twitter kalo, di Indonesia olahraga dan musik itu masih berupa selingan dan hobi. Sebuah sikap baik untuk menjawab ketakutan orang tua : daripada mereka nongkrong ga jelas dan kena narkoba mending ikutan ginan.
tak disangka juara-juara-juara ketika kuliah semuanya berubah.
dan Indonesia untuk kesekian kalinya kehilangan calon emas olimpiadenya karena :
ah jadi atlet ga pasti hidupnya.
di CNN Susi Susanti bahkan bilang bahwa dia ga mau anaknya juga main bulutangkis.
"saya yang emas aja ga pasti hidupnya, apa lagi yang lain"
seakan-akan kalau mau jadi atlet di Indonesia harus bawa emas Olimpiade dari rahim biar bisa sejahtera dengan 5 Milyar.
No comments:
Post a Comment