Saturday, July 2, 2016

05.05

Pagi ini Buffon terisak pedih karena Italia tersingkir di Euro 2016.
Terkadang terdengar bicaraan mengenai "gitu doang nangis" atau "yaudah lupain" entah dengan dalil menghibur atau memang mengejek air mata yang jatuh dari kelopak seorang laki-laki.

Kesedihan ketika kalah gw alami ketika gw mulai menjadikan olahraga sebagai penghidupan bathin. mencari teman, kemudian mencari prestasi dan semangat hidup. gw berkali-kali kalah dan selalu merasakan sedih yang sama. Mungkin di lapangan gw memang ga terlihat sedih bahkan kadang ketawa-ketawa aja. Begitu tiba di rumah, semua itu sembari mandi atau makan, dan kuliah, timbul banyak penyesalan-penyesalan yang mendalam, seperti
"kenapa gw tadi begini, kenapa ga begini"
"andai gw begini mungkin ga kalah"
dan seterusnya..

pedihnya kalah itu bisa berminggu-minggu.
bengong dikit keinget, denger lagu apa eh keinget.
sampe akhirnya bisa berjuang untuk menghilangkan sedih dan mulai latihan lagi.

Kekalahan sebelumnya bukan lagi menjadi motivasi.
kekalahan itu sudah menjadi luka dan untuk itu harus segera diobati dengan cara menjadi lebih baik dari periode sebelumnya.

Buffon bahkan ga sempet lama-lama di lapangan.
Dia penuh sesal karena tak mampu menahan tendangan penalti.

setiap pemain akan merenungkan apa-apa yang tadi mereka perbuat dan kesalan-kesalahan.
tak ada waktu untuk menyalahkan orang lain.

dari situ mereka akan belajar caranya untuk bangkit.
learn how to get up, how to fix it.
tanpa henti.

No comments:

Post a Comment